Friday, 13 April 2012

nasib Bahasa Melayu....layu di taman yang subur......

Gurindam Sayu Bahasaku

Tuai padi antara masak,
jangan nanti berbuah hampa,
tersedu pak tani, dadanya sebak…
padi yang gugur, hampa belaka,

Tuailah padi yang masak,
padi di kepok bercupak-cupak,
nasi ditanak, beraslah baru,
hidangan bersama sahabat baru….

Lalu..dalam gelita cahaya bersinar,
Dan…dalam lara pak tani pertahankan tanahnya;
namun...akhirnya, rezeki secupak perlu dikongsi
demi sebuah kehidupan…

Kala itu...terciptalah sebuah kisah;
Tanah itu….hak bersama, dan dalam titisan air mata
mereka relakan...
Maka, tika merdeka tercipta… bahasa menjadi satu,
Rakyat berpadu dibawah payung tuanku

Bahasa Melayu pun ditanam, kukuh dan padu,
152 akta termaktub, bersama 153,
Islam terpelihara dalam naungan Tuanku
lambang kedaulatan negara
merdeka dan berdaulat;
demi menjaga sebuah pengorbanan...
lahirnya dalam gembira...tapi jiwanya kelam...
sayu menerima hakikat....

Namun…bahasaku;
Gah di persada dunia, tapi layu di bumi sendiri...
Pohonnya mulai bergegar,
Rakyat leka tidak menabur baja,
tidak bersiram hampir layu…
adakah akan reput dimamah usia??...

Bahasaku dulunya, agung sebagai lingua franca,
Seantro dunia berdagang, Bahasa Melayu sebagai perantara,
Lenyapnya bahasaku, jatuhnya Melaka,
Berkurun lama nasibmu serupa…
hilangnya Tanah Melayu dalam peta dunia,
bahasaku jangan sampai hilang jua…
tapi, realitinya semakin jauh...
leka mencipta nama di persada dunia
bahasaku, kata mereka tak ke mana!!!!…

maka, menangislah Sang Pencinta Bahasa,
haru dalam aliran kemajuan,
tenggelam dibawa arus wawasan,
laungan hanyalah sesekali,
lalu…Bulan Oktober cuba dirai…
Hanya sekadar itu bahasaku, mampu berdiri…
maka...lahirlah, “Bulan Bahasa Kebangsaan”
demi mengangkat martabat di persada...
Tapi, siapakah yang peduli??...
Hanya kami, pencinta bahasa
yang mengerti, betapa laranya nasibmu!!!

Luahan rasa : 
za_tintamaya
18 Oktober 2010/6.45 pagi
 ______________________________________________
(Cetusan rasa – sempena sambutan Bulan Bahasa Kebangsaan SKPJ)
@Hak cipta – Hazliza Ismail'2010

Bahasa Melayu.....di mana tempatmu???


Bahasa Melayu Dalam Kenangan

Sopannya duduk, tersenyum manis
petah kata, bicara teratur
indah bahasa, budaya bangsa
tingkah dijaga, ukhwah terpelihara
huluran budi, jasa dalam ingatan
sepanjang hayat menjadi sebutan
warisan pusaka mahal harganya,
namun, tiada siapa yang berebutkannya,
terbiar sepi, di bawa arus masa
hanyut dalam gelinciran waktu
beredar merubah fatamorgana
rakus membina negara tapi bukan tamadun,
terbias menjadi arca dalam pandangan sepi,
senyum sinis menidakkan haknya….

Bahasaku indah sekali,
atur ayatnya puitis bermadah
pernah gah seantero dunia
menjadi nadi perhubungan insan berkelana
bersepakat mendapat nikmat dalam lautan rezeki
melimpah memayungi sejahtera rakyat jelata
menghirup manisnya percambahan budaya
menggarap tari irama lagu nan syahdu,
tersenyum manis si perawan,
usik mengusik si teruna,
joget lambak, berdondang sayang,
syair gurindam jiwa pasti membuai sayu,
seloka pantun menambahkan ria
masa beredar meninggalkannya jauh di belakang
hanya sesekali tersebut
dalam majlis si pengacara memukadimah,
penutup acara menambah serinya majlis…

Madah pujangga puitis sekali,
hanya jauhari yang kenal makna tersirat
riak rasa terlahir dalam sepi
hati terkenang mulut menyebut
hanya dalam makrifat, bukan hakikat,
hikayat lama terbiar lesu
layu dalam jagaan, tak bersiram
apatah lagi hendak dibajai
terbiar menunggu mati di bumi sendiri,
walaupun keranda pernah diusung
ia sekadar simbol tak bernilai
nilai harta tak setinggi duduknya
maka bahasaku masih begitu….

Saban waktu, sesekali terjaga
rupanya, masih lagi mengayam mimpi
mengigau pada siang hari
menjelang senja, ia lenyap tak berbahasa
biarpun meniti ufuk timur,
mentari barat tetap dominan
mereka yang berkatalah, empunya angkara
leka tak bertanda, arahnya hilang tak berpandu
makin lama makin lesu
pewaris Za’aba semakin sayu
pilu di kalbu tapi tak termampu
keluh kesah hanyalah lontaran hati
tapi ia tetap tak bererti
kata hati masih belum dituruti
tinggal diam dalam wasilah
terpateri kukuh, namun sekadar penyejuk hati
jika itu tiada, pasti bahasaku telah MATI…. 


Mainan rasa,
za-penaberkias/@HAZLIZA ISMAIL
5 Oktober 2011/1.35 pagi
(sempena menyelusuri ruang lingkup “Oktober : Bulan Bahasa Kebangsaan”)