Bahasa Melayu Dalam Kenangan
Sopannya duduk, tersenyum manis
petah kata, bicara teratur
indah bahasa, budaya bangsa
tingkah dijaga, ukhwah terpelihara
huluran budi, jasa dalam ingatan
sepanjang hayat menjadi sebutan
warisan pusaka mahal harganya,
namun, tiada siapa yang berebutkannya,
terbiar sepi, di bawa arus masa
hanyut dalam gelinciran waktu
beredar merubah fatamorgana
rakus membina negara tapi bukan tamadun,
terbias menjadi arca dalam pandangan sepi,
senyum sinis menidakkan haknya….
Bahasaku indah sekali,
atur ayatnya puitis bermadah
pernah gah seantero dunia
menjadi nadi perhubungan insan berkelana
bersepakat mendapat nikmat dalam lautan rezeki
melimpah memayungi sejahtera rakyat jelata
menghirup manisnya percambahan budaya
menggarap tari irama lagu nan syahdu,
tersenyum manis si perawan,
usik mengusik si teruna,
joget lambak, berdondang sayang,
syair gurindam jiwa pasti membuai sayu,
seloka pantun menambahkan ria
masa beredar meninggalkannya jauh di belakang
hanya sesekali tersebut
dalam majlis si pengacara memukadimah,
penutup acara menambah serinya majlis…
Madah pujangga puitis sekali,
hanya jauhari yang kenal makna tersirat
riak rasa terlahir dalam sepi
hati terkenang mulut menyebut
hanya dalam makrifat, bukan hakikat,
hikayat lama terbiar lesu
layu dalam jagaan, tak bersiram
apatah lagi hendak dibajai
terbiar menunggu mati di bumi sendiri,
walaupun keranda pernah diusung
ia sekadar simbol tak bernilai
nilai harta tak setinggi duduknya
maka bahasaku masih begitu….
Saban waktu, sesekali terjaga
rupanya, masih lagi mengayam mimpi
mengigau pada siang hari
menjelang senja, ia lenyap tak berbahasa
biarpun meniti ufuk timur,
mentari barat tetap dominan
mereka yang berkatalah, empunya angkara
leka tak bertanda, arahnya hilang tak berpandu
makin lama makin lesu
pewaris Za’aba semakin sayu
pilu di kalbu tapi tak termampu
keluh kesah hanyalah lontaran hati
tapi ia tetap tak bererti
kata hati masih belum dituruti
tinggal diam dalam wasilah
terpateri kukuh, namun sekadar penyejuk hati
jika itu tiada, pasti bahasaku telah MATI….
Mainan rasa,
za-penaberkias/@HAZLIZA ISMAIL
5 Oktober 2011/1.35 pagi
(sempena menyelusuri ruang lingkup “Oktober : Bulan Bahasa Kebangsaan”)
No comments:
Post a Comment